« Kangen... | Main | TragediMalamMinggu »

Mengapa begini, mengapa begitu?

Ketika membuka koran pagi ini, aku tertarik dengan sebuah berita tentang jalannya pemilihan umum di Mesir. Hosni Mubarak melarang para pemilih dari kalangan IM untuk mendatangi tempat pemilihan dan memberikan suaranya, dan hal ini menimbulkan bentrokan massal yang merenggut korban jiwa.

Ah, kasihan betul nasib umat ini. Nggak di Indonesia, nggak dimana-mana, selalu saja menjadi alat politik dan terpecah belah nggak karuan. Mungkin terlalu jauh bagi kita untuk menanggapi apa yang terjadi di Mesir sono (adoh dab, hehe..!!), Emmh. coba kita lihat di negeri sendiri aja deh. Sepenglihatanku, terutama sejak masa reformasi, para kiai kita lebih sibuk berpolitik daripada memberikan pendidikan kepada ummat. Padahal, dengan semakin derasnya arus informasi, para kiai justru semakin dibutuhkan perannya dalam menanamkan dasar-dasar agama untuk membentengi umat ini. Aqidah, ibadah, dan akhlak adalah hal yang amat penting, dan bukan amat kecil, namun amat uurrrghenn..(hehe, Pak Habiebie bgt ya :p). Namun, sebagian besar Kiai malah menyibukkan diri kedalam dunia politik dengan alasan untuk kemaslahatan umat. Okelah, bagaimanapun juga kita memang tidak bisa mengesampingkan urusan politik begitu saja. Maka bermunculanlah partai-partai Islam, dengan beragam benderanya. Diharapkan terjunnya para kiai di dunia politik tersebut dapat memberikan teladan dan pendidikan bagi ummat, bagaimana berpolitik secara benar dan Islami.

Tetapi apa lacur? Yang terlihat sekarang adalah sebuah keanehan, carut-marut, perpecahan yang bagiku nggak jelas mana ujung pangkalnya. Jangankan untuk menyatukan pendapat beberapa partai Islam, lha wong dalam satu partai Islam saja bisa pecah dan malah gontok-gontokan terus kok! Hati ini kadang sampe gemez rasanya ngeliat kondisi kaya gitu. Lucu buanget pokoke lah!! Ga heran kalo kalangan non muslim seringkali menganggap remeh dan mentertawakan kita, lha wong kita ini juga pinter ndagel kok!!

Maka timbul suatu pertanyaan, "sebenarnya apa sih yang bikin kita ga bisa bersatu? Kenapa kita ga bisa?". Umm, kayakna untuk menyatukan partai-partai itu menjadi satu saja memang agak susah, karena memang sudah fitrah manusia untuk mempunyai pendapat yang berbeda. Namun apakah tidak bisa bagi kita untuk paling tidak menyatukan langkah, menyikapi suatu permasalahan dengan melihatnya dari Islam sebagai kacamata utama? Kompak gitu loh!! Apa gunanya para Kiai disitu? Kemana perginya semangat Ukhuwah Islamiyah yang selalu didengung-dengungkan itu, ikut anggota dewan piknik ke Mesir po?! Silaturahmi yang dilakukan kurasakan lebih diselimuti semangat politis daripada semangat ukhuwah Islamiyah (heihei, ga baik tu su'udzan..Astaghfirullah). Lebih jauh lagi, dengan melihat realita saat ini, perlu ditanyakan lagi kepada partai-partai yang mengaku Islam tadi, sebenarnya apa sih tujuan utama mereka? Mungkin permasalahannya tidaklah sesederhana yang dibayangkan, namun inilah yang dilihat oleh kaum arus bawah seperti kami. Para Kiai (Ulama) harus sadar, bahwa mereka adalah pewaris para Nabi (aku sangat yakin bahwa mereka jauh jauh jauh lebih tau daripada cecunguk busuk berpikiran dangkal ini). Kepada merekalah umat ini bergantung. Kalau para ulamanya tidak lagi bisa diandalkan, maka kepada siapa lagi umat ini akan menggantungkan harapan?

Comments

Memang seperti itukah? inilah realita yang harus kita hadapi. Pertanyaan berikutnya adalah apa yang bisa kita lakukan? Bukankah untuk membentengi ummat (bahasanya Danang) untuk membangun ummat selain dengan top down dilakukan dengan bottom up juga.

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .