« Behold!! The Nightmare!! | Main | foto heboh »

Senja Merah

Merahnya langit barat seringkali menimbulkan perasaan aneh di hati ini. Membawa ingatan berloncatan ke tanah lapang, balkon, jalanan dan tempat-tempat tanpa nama yang hanya sekelebat saja melintas. Jakarta, Jogja, desa. Senja jakarta memang mempunyai nuansa tersendiri -walaupun beberapa alasan manusiawi membuat tidak semua manusia sempat menikmatinya- karena kita harus menangkapnya cepat-cepat sebelum dia ditelan lampu penerangan yang beribu banyaknya, yang menyinari debu-debu jalanan yang pelan berkejaran menuju pertiwi. Menyapa manusia-manusia yang tak jua berhenti mencari hidupnya. Sedangkan di desa, merahnya langit adalah pertanda bagi anak-anak untuk berlarian ke langgar, berkumpul dengan kakak-kakaknya dan menguji kekhusyuan ibadah orang-orang tua mereka dengan canda celotehnya. Sementara bagi yang sudah dewasa, bagaimanapun hari yang dilalui, senja merupakan isyarat untuk mengistirahatkan tulang-tulangnya dan berterimakasih pada Sang Pemberi Rezeki karena masih diperbolehkan menatap birunya langit seharian tadi.

Maka malam pun datang.

"Detik demi detik lenyap ditelan malam. Dan dengan tiada terasa umur manusia pun lenyap sedetik demi sedetik ditelan malam dan siang. Tapi masalah-masalah manusia tetap muda seperti waktu. Di mana pun juga dia menampakkan dirinya. Di mana pun juga dia menyerbu ke dalam kepala dan dada manusia, dan kadang-kadang ia pergi lagi dan ditinggalkannya kepala dan dada itu kosong seperti langit."
                                                    "Bukan Pasar Malam, Pramoedya Ananta Toer"

Ah, jingga. lembayung. merah..

       

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .